Premanisme Berkedok Parkir Liar Menghantui Warga Jakarta, Pemda dan Penegak Hukum Kemana?

pengeroyokan anggota TNI oleh tukang parkir liar dan pembakaran Mapolsek Ciracas oleh massa (Foto: Instagram @infokomando)

DiamondNews, Jakarta – Warga Jakarta meminta aparat penegak hukum dan pemerintah daerah untuk membasmi premanisme berkedok parkir liar yang menjamur di ibukota. Sebab, keberadaan tukang parkir ilegal ini dinilai telah meresahkan masyarakat.

 

Hal tersebut diungkapkan oleh Andriani, salah satu karyawan swasta yang dijumpai usai keluar dari mini market di kawasan Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Rabu (12/12/2018) siang.

 

“Oya, emang lagi hot issue kan itu. Bayangin mas, sama TNI aja mereka berani, apalagi sama kita-kita ini yang warga biasa,” ujarnya mengomentari kasus pengeroyokan anggota TNI oleh tujuh orang tukang parkir di Ciracas, Jakarta Timur.

 

Hampir setiap berkunjung ke ATM Center atau minimarket, Andriani mengaku selalu dimintai pungutan oleh tukang parkir setempat. Bahkan walaupun sudah diberi uang, tidak jarang tukang parkir yang sampai mengeluarkan kata-kata tidak sopan terhadapnya.

 

“Kan kita nggak selalu punya uang dua ribuan. Kadang kalau dikasih seribu dia nggak terima, maunya lebih. Kalau nggak dikasih sesuai permintaan, mereka marah-marah, ngoceh yang macam-macam, kata-kata jorok gitu,” tuturnya.

 

Suatu ketika, sekeluar dari ATM Center, Andriani sama sekali tidak memiliki uang receh. Uang yang ada di dompetnya hanya berupa pecahan Rp 50.000 yang baru saja ditariknya melalui mesin ATM.

 

Saat menghidupkan mesin motornya, tiba-tiba terdengar suara peluit. Seperti yang ia duga, tukang parkir liar ini menunjukkan diri setelah calon korbannya akan meninggalkan lokasi.

 

“Parkirannya emang lagi ramai, banyak yang parkir. Tadi waktu saya nyampe, tukang parkir ini nggak kelihatan sama sekali. Karena nggak ada uang receh dan dia juga nggak ngebantuin sama sekali, yaudah pas ditagih saya minta maaf. Eh dia nggak terima, nyolot dan marah-marah. Motor saya sampai ditendang, mas, untung aja nggak jatuh,” katanya.

 

Andriani yakin, baik pemilik minimarket maupun karyawannya juga tidak berdaya melarang tukang parkir liar tersebut. Ia menduga ada yang mengkoordinir di bawah komando ormas tertentu.

 

“Kayaknya sih, ini dugaan saya aja ya, mereka itu setoran sama bosnya. Ada yang ngatur dan mereka di-backing ormas. Makanya mereka arogan banget,” ucapnya.

 

Sementara itu, warga Jakarta lainnya yang bernama Sutanto atau yang biasa dipanggil Tanto menuturkan bahwa tukang parkir liar dapat dengan mudah dijumpai di Jakarta.

 

Hampir setiap ATM Center, minimarket, restoran, pinggir jalan dan lahan kosong menjadi peluang bagi tukang parkir liar untuk menarik pungutan dari masyarakat.

 

“Banyak yang cuma minta duit dong, nggak bantuin sama sekali. Kita kan kesal juga kalau kayak gitu. Tapi kalau dibantu narikin motor atau nyebrang, terus terang saya pribadi pasti ngasih dua ribuan sebagai tanda terimakasih. Lagian kalau motor kita hilang apa mereka mau tanggungjawab? Enggak kan?” Ujar Tanto yang dijumpai di kawasan Bendungan Hilir.

 

Oleh karena itu, baik Andriani maupun Tanto meminta agar aparat penegak hukum dan pemerintah daerah membasmi tukang parkir liar yang meresahkan masyarakat.

 

“Saya heran, tiga pilar kemana sih? Pemda DKI kemana? Polisi kemana? Kenapa dibiarkan? Tukang parkir liar ini sudah menghantui masyarakat,” ucap Andriani.

 

“Tolonglah diberesin semua ini tukang parkir liarnya. Jangan dibiarin, tindak yang tegas. Walau kesannya hal kecil tapi sangat meresahkan. Atau jangan-jangan mereka ada kerjasama dengan aparat? Kan bisa aja begitu,” pungkas Tanto.

 

Sebelumnya, anggota TNI AL Kapten Komaruddin dikeroyok oleh tujuh orang tukang parkir liar di depan pertokoan Arundina, Ciracas, Jakarta Timur, Selasa (11/12/2018).

 

Saat itu, Kapten Komaruddin bersama anaknya usai memperbaiki sepeda motornya dan berencana untuk makan di warung yang berada di dekat Arundina.

 

Akan tetapi ketika hendak memarkirkan kendaraannya, knalpot sepeda motor Kapten Komaruddin mengeluarkan asap yang tidak biasa. Ia pun kemudian memeriksanya.

 

Pada waktu yang bersamaan, seorang tukang parkir menggeser sepeda motor lainnya tanpa permisi hingga menyenggol kepala Kapten Komaruddin.

 

Bukannya minta maaf, tukang parkir tersebut malah melawan hingga terjadi cekcok mulut dan keributan. Hal ini menarik perhatian rekan tukang parkir lalu mereka bersama-sama mengeroyok Kapten Komaruddin.

 

Saat insiden pengeroyokan tersebut, seorang anggota TNI AD, Pratu Rivonanda yang kebetulan lewat berusaha melerainya. Namun, ia dan Kapten Komaruddin justru dikeroyok oleh para tukang parkir.

 

Beruntung akhirnya Pratu Rivonanda berhasil menyelamatkan Kapten Komaruddin dan anaknya dan meninggalkan lokasi.

 

Kejadian ini diduga menjadi penyebab penyerangan dan pembakaran Mapolsek Ciracas oleh ratusan massa pada Selasa (11/12/2018) tengah malam.

 

 

 

(red)

 

Reporter : Hamdi Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Jokowi: Bubarkan BP Batam!

Rab Des 12 , 2018
DiamondNews, Jakarta – Presiden Joko […]