Batam Kota Tidak Ramah Untuk Anak-Anak

Hari anti perdangangan anak (Foto: dwnews)

DiamondNews, Batam – Hari anti perdangangan anak yang jatuh tepat pada (12/12) di peringati oleh aktivis kota Batam, seperti rumah Faye, Yayasan Embun Pelangi, KKPPMP, Dunia Viva Wanita, Lintas Nusa, Libak, Gerhana dan P2TP2A yang tergabung dalam safe migrant.

 

Aktivis yang ada di Kota Batam di ketuai oleh pastor Chrisanctus Pashalis Saturnur atau yang akrab di sapa dengan Romo Paskhal, yang dilaksanakan di Harmoni One Hotel pada (12/12/2018) yang mengundang beberapa istansi terkait seperti pihak kepolisan, Kadis P3A_P2 dan beberapa berwakilan LSM juga perwakilan dari jaringan peduli migrant kota Batam.

 

Dalam memperingati hari anti perdangangan anak, jaringan peduli migrant ini membahas  atau memaparkan tentang kondisi anak-anak yang ada di kota Batam yang masih banyak belum mendapatkan pendidikan atau bahkan kehidupan yang layak sebagai anak-anak.

 

Kota Batam bukan kota layak anak, Dewi perwakilan dari rumah Faye menegaskan bahwa kota Batam memang belum pantas dijadikan kota layak anak, karena melihat banyaknya kasus trafficking yang terjadi akhir-akhir ini, seperti kasus yang terjadi dalam beberapa bulan lalu yang melibatkan salah satu tersangka perdangangan anak yaitu J. Rusna yang kini masih menjalani kasus persidangan.

 

Dewi sangat menyayangkan jika hal ini tidak direspon dan tidak tindak secara hukum yang benar maka akan banyak lagi anak-anak yang mejadi korban J. Rusna.

 

Pernyataan bahwa kota Batam belum menjadi kota layak anak ini juga dilontarkan oleh Misni, Kadis P3A_P2 Kepri yang juga turut hadir dalam peringatan hari anti perdagangan anak. Menurutnya untuk disebut sebagai kota layak anak ada tingkatan yang harus di penuhi, ada 5 tahapan untuk daerah bisa menjadi kota layak anak, tahapan ini memiliki tingkatan mulai pratama dan mandiri.

 

Untuk tingkatannya sediri, tahap pratama baru meliputi hak sipil dan kebebesan, tahap madya meliputi lingkungan keluarga dan pengusahaan alternative, tahap nindya berada di tahapan kesehatan dan kesejahteraan anak.

 

Dan untuk mencapai tahapan utama inipun hanya ada dua kota yang ada di Indonesia seperti Surabaya dan Purwakarta yang baru bisa melaksanakannya.

 

(red)

 

, ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *