AC Milan Terancam Sanksi Berat, Terkait Keuangan

(Foto: acmilan.com)

DiamondNews, Sepakbola – Associazione Calcio Milan alias AC Milan adalah sebuah nama besar di jagat persepakbolaan. Juventus boleh menjadi penguasa Italia, tetapi klub Italia paling sukses di level Eropa adalah Rossoneri.

Milan mengoleksi 18 kali juara Serie A Italia. Lumayan jauh dibandingkan pencapaian Juventus yang sudah kepala 3.

Namun dalam hal gelar Piala/Liga Champions Eropa, Milan lebih digdaya ketimbang Si Nyonya Tua. Milan berhasil menjadi juara tujuh kali, hanya kalah dari Real Madrid dengan 13 gelar.

 

Juventus? Dua gelar saja.

Akan tetapi setelah juara Serie A pada musim 2010/2011, Milan mulai mengalami tren penurunan. Menjadi runner-up pada musim setelahnya, Milan melorot lagi ke peringkat 3 pada musim 2012/2013.

Kemudian pada musim 2013/2014, Milan hanya mampu finis di urutan ke-8. Bahkan pelatih kepala Massimiliano Allegri dipecat pada tengah musim, digantikan oleh Clearence Seedorf.

Lalu pada musim 2014/2015, posisi Milan semakin melorot ke rangking 10. Musim ini menjadi kali pertama sejak 1999 Milan gagal berpartisipasi di kompetisi antar-klub Eropa.

Pada musim 2015/2016, posisi Milan membaik dengan finis di urutan 7. Membaik memang, tapi peringkat 7 bukanlah habitat yang pantas bagi klub sebesar Milan.

Pada musim 2016/2017, peringkat Milan naik lagi ke posisi 6. Lagi-lagi belum pantas untuk Milan.

Musim lalu, Milan mempertahankan posisi dengan finis di peringkat 6. Milan pun berhak mendapatkan jatah bermain di Liga Europa, karena menjadi runner-up Copa Italia. Juventus, yang menjuarai Copa Italia, tentu memilih bermain di Liga Champions.

Termakan PHP Li Yonghong

Namun awalnya Milan tidak diperbolehkan ikut Europa League. Penyebabnya adalah Milan gagal memenuhi peraturan Federasi Sepakbola Eropa (UEFA) terkait Financial Fair Play (FFP).

UEFA mengharuskan klub tidak boleh besar pasak daripada tiang. Klub yang diketahui mengeluarkan duit lebih dari kemampuannya akan menghadapi sanksi, salah satunya dilarang ikut kompetisi antar-klub di Benua Biru.

Mengutip Calciomercato, Milan mengalami rugi bersih 75 juta euro pada musim 2017/2018. Musim sebelumnya, laporan keuangan Milan juga merah dengan rugi bersih 90 juta euro.

Mendapat vonis dilarang tampil di Europa League, Milan pun mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase untuk Olahraga (CAS). Hasilnya menggembirakan, Milan menang di tingkat banding dan vonis UEFA dicabut.

CAS menilai ada potensi perbaikan di Milan setelah pergantian pemilik. Ya, Milan termakan harapan palsu dari investor China bernama Li Yonghong.

Setelah menggelontorkan uang lebih dari 200 juta euro untuk merekrut banyak pemain, Li meninggalkan Milan dengan tumpukan utang.

Elliot Management, tempat Li mengambil utang, akhirnya merealisasikan haknya untuk menjadi pemilik Milan. Li memang meminjam uang dari Elliot dengan Milan sebagai jaminan. Milan yang tergadai akhirnya berganti pemilik.

 

 

(red)

, , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *