Heriandi Lim Laporkan ‘Orang Sakti’ ke Bareskrim Polri

Wakil Ketua DPW PKB DKI Jakarta, Heriandi Lim usai melaporkan pemilik akun Twitter @istadtengkuzul ke Bareskrim Polri atas tuduhan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (6/1/2018). (Foto: dwnews/ Hamdi Putra)

DiamondNews, Jakarta – Wakil Ketua DPW PKB DKI Jakarta, Heriandi Lim akhirnya melaporkan pemilik akun Twitter @ustadtengkuzul ke Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat, pada Minggu (6/1/2018).

 

Berdasarkan Tanda Bukti Lapor Nomor TBL/0014/I/2019/Bareskrim, pemilik akun Twitter @ustadtengkuzul diduga telah melakukan tindak pidana pencemaran nama baik dan ujaran kebencian melalui media elektronik.

 

Akun Twitter @ustadtengkuzul diduga dimiliki oleh Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, Ustaz Tengku Zulkarnain.

 

“Sebenarnya saya diperingatkan agar jangan melapor karena pelaku ini adalah orang sakti, dalam artian dia katanya kebal hukum dan bisa bicara sesuai dia, semaunya. Tapi saya mengabaikan itu demi kecintaan saya terhadap ibu Pertiwi, NKRI dan Pancasila,” ujar Heriandi Lim.

 

Akibat perbuatan pelaku, Heriandi Lim merasa dirugikan, apalagi saat ini dirinya juga maju sebagai salah satu calon anggota legislatif (caleg) untuk DPRD DKI Jakarta dari PKB.

 

“Terus terang banyak yang membagikannya di media sosial. Itu sangat merugikan saya. Pelaku juga mempertanyakan kewarganegaraan saya, ini kan aneh. Saya tegaskan bahwa saya lahir, besar dan tinggal di Indonesia. Lagian KPU juga hanya meloloskan caleg yang merupakan Warga Negara Indonesia,” tutur Heriandi Lim.

 

Menurutnya, Indonesia akan hancur dan nilai-nilai Pancasila akan luntur jika kebencian terus dibiarkan dan berkembang di Nusantara. Oleh sebab itu hukum harus ditegakkan dengan seadil-adilnya tanpa pandang bulu.

 

“Pelaku saya laporkan dengan pencemaran nama baik sesuai Pasal 28 Ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), juncto Pasal 310 KUHP UU Nomor 1 Tahun 1946 menyangkut ujaran kebencian,” ucapnya.

 

Diberitakan sebelumnya, persaingan politik menjelang Pemilu 2019 semakin memanas. Tidak hanya melibatkan kubu pendukung kedua pasangan capres-cawapres, tapi juga menimpa calon anggota legislatif (caleg).

 

Kali ini korbannya adalah Wakil Ketua DPW PKB DKI Jakarta, Heriandi Lim bersama sejumlah caleg lainnya.

 

Heriandi Lim merupakan salah satu caleg dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk DPRD DKI Jakarta nomor urut 9, Dapil Pademangan, Penjaringan dan Tanjung Priok.

 

Mereka diserang oleh akun Twitter @ustadtengkuzul melalui unggahan sejumlah foto lembar kampanye yang dipublikasikan pada Rabu (2/1/2018).

 

Lembar kampanye para caleg dalam unggahan tersebut terdiri dari Bahasa Indonesia dan Mandarin.

 

“Ini adalah Lembar Kampanye Calon Anggota Legislatif. Pertanyaannya, dari Negara Manakah Para Caleg Ini…? Jika Ini Benar Lembar Kampanye dari NKRI, bagaimana Perasaan Anda Semua…? Senangkah…? Atau Jengkel….? Monggo…,” tulis akun Twitter @ustadtengkuzul.

 

Berdasarkan tangkapan layar yang beredar di media sosial, unggahan tersebut sempat mendapatkan 771 komentar, disukai oleh 1.896 akun dan telah dibagikan kembali sebanyak 1.210 kali. Akan tetapi, saat ini unggahan tersebut telah dihapus oleh pemilik akun Twitter @ustadtengkuzul.

 

Heriandi Lim mengaku mengetahui dugaan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian terhadap dirinya dan sejumlah caleg lainnya dari pemberitahuan akun Facebook-nya.

 

“Jadi serangan terhadap kami tidak hanya melalui Twitter tapi juga Facebook. Kalau foto saya ada yang unggah di Facebook, ada notifikasi face-detect-nya,” ujar Heriandi Lim, Sabtu (5/1/2018) siang.

 

Menurutnya, lembar kampanye yang dijadikan sebagai alat serangan terhadapnya merupakan foto kala maju sebagai caleg pada Pemilu 2014 silam.

 

“Saya berterima kasih dengan viralnya foto kampanye saya yang saya pakai pada tahun 2014 silam yang ada nama Tionghoa saya memakai aksara Mandarin dipertanyakan. Tapi itu tidak menunjukan saya bukan orang Indonesia, saya hanya mencantumkan nama tradisi Tionghoa saya saja,” tuturnya.

 

Ia menjelaskan bahwa nama beraksara Mandarin yang ada dalam lembar kampanye tersebut bertujuan untuk mempermudah masyarakat Tionghoa mengenali dirinya.

 

“Sama seperti aksara pada batu nisan almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ada aksara Mandarin, Arab, Inggris dan tentu saja lengkap dengan Bahasa Indonesia,” kata Heriandi Lim.

 

Ia menegaskan bahwa pandangan kebangsaannya adalah Pancasila, sama seperti nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh Almarhum Gus Dur dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

 

“Saya optimis, dengan viralnya penolakan saya, tetap akan ada yang memilih saya di 2019 ini. Karena saya bagian dari masyarakat yang menghargai keanekaragaman dan perbedaan. Walaupun berbeda-beda, tapi tetap satu, kita Indonesia,” ucapnya.

 

Ia menilai serangan yang dilancarkan terhadapnya merupakan efek ketatnya persaingan pada Pemilu 2019. Apalagi, tempatnya berlaga tergolong dalam dapil neraka.

 

“Kenapa saya sebut dapil neraka? Karena petahana maju semua, sembilan-sembilannya maju lagi untuk memperebutkan 9 kursi,” kata Heriandi Lim.

 

 

(red)

Reporter : Hamdi Putra

 

, ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *