Lamban Tangani Korban Gempa , Mahasiswa Gedor Kantor Bupati

Mahasiswa lakukan aksi demo (Foto: dwnews)

DiamondNews, Lombok Barat – Demo puluhan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Forum Mahasiswa Lombok Barat ( FM ) gedor kantor Bupati Lombok Barat Kamis, (10/1/2019).

Demo mahasiswa ini, sebagai buntut  Pemkab Lombok Barat sangat lamban menangani bantuan gempa Lombok Barat, NTB.

Demo dari Aliansi Forum Mahasiswa Lombok Barat ini menuntut  agar sejumlah, kebijakan pemerintah Lombok Barat khususnya Bupati terkait penanganan gempa Lombok di wilayah terdampak  gempa bumi di kecamatan Lingsar, kecamatan Narmada, kecamatan Gunung Sari dan dan kecamatan Batu Layar, sampai saat ini belum mendapat kejelasan pasti.

 

“ hingga saat ini, masyrakat korban gempa di Lombok Barat, belum mendapat bantuan yang di janjikan oleh pemerintah. Yang 50 juta untuk rusak berat 25 juta untuk sedang dan 10 juta untuk rusak ringan” ungkap Muksin.

 

Koordinator aksi  Muksin mengatakan, mereka menuntut agar percepatan realisai dana gempa di Lombok Barat untuk  di mempermudah persyaratan penerimaan bantuan dana gempa bumi bagi masyarakat, serta meningkatkan pengawasan pendistribusian dana gempa yang transparan.

 

“Persyaratan untuk korban gempa bagi kami setelah turun di masyarakat, sangat berat dan sangat lamban. Sementara warga sangat membutuhkan bantuan” ujar Muksin.

Selain itu Masa aksi mendesak pemerintah pusat agar segera menepati janjinya,  untuk segera menyelesaikan penanganan musibah gempa Lombok, jika tidak di respon akan kembali melakukan demo.

“Maka kami akan melaksanakan aksi demo besar besaran dengan sejumlah masa yang lebih banyak.” ungkap Muksin dalam orasinya.

Muksin juga menuntut Bupati Lombar, Fauzan Khalid untuk mempertanggung jawabkan janjinya. “Karena yang selama ini kenyataan sangat berbeda kami sangat prihatin terhadap masyarakat yang menjadi korban gempa yang sampai saat ini tidak ada kejelasan”.

“Cobak bupati lihat masyarakat Lombok Barat yang terkena musibah gempa, mereka sampai saat ini masih tertidur di tenda pengungsian, mereka butuh air, mereka butuh obat, banyak masyarakat yang meninggal akibat penyakit malaria yang mereka alami dan sampai saat ini ada juga yang belum tertangani, sampai kapan masyarakat lombok barat yang masih duduk di pengungsian.” lanjutnya.

 

Salah seoran korban gempa, Mirani sekaligus mahasiswa menyampaikan kalau ia datang ke sini bukan menggangu aktifitas bapak – bapak selaku pejabat pemda. Ia datang akan menagih janji bapak bupati, lantaran mereka sudah lelah kedinginan tidur di tenda – tenda. “Kami ingin hidup layak, dan kami sudah tidak tahan,” paparnya.

 

(red)

Tinggalkan Balasan