Rusdianto: Kisah Nelayan Hidup Dari Utang

 

(Foto: dwnews)

DiamondNews, Sumbawa – Kisah nelayan di Dusun Labuhan Ala, Desa Berangkolong, Kecamatan Plampang, sebagian nelayan terpaksa menganggur akibat ombak tinggi di Perairan Laut Teluk Saleh, sejak sepekan terakhir. Situasi ombak tak kunjung normal, membuatnya menganggur hingga waktu yang tak pasti.

 

Salah satu nelayan Mecky Muluk (43 tahun) mengaku sudah tidak melaut, sejak akhir Desember 2018 lalu. Mereka menyandarkan perahunya, tanpa penghasilan. Kalau nelayan memaksakan melaut, juga bahaya. Hasilnya juga tidak maksimal, karena ombak besar, ikannya sedikit.

 

Cuaca buruk biasanya muncul mulai siang sampai sore hari. Mereka akhirnya takut dan pasrah. Untuk menutup kebutuhan hidup bersama keluarganya, dia terpaksa berutang mengandalkan pinjaman tetangga. Uang tambahan juga didapat dari aktivitas memperbaiki jaring dan kapal yang bocor.

 

Sementara itu, disebagian besar nelayan Desa Pesisir Teluk Saleh, sebanyak 10 Desa Labuhan, terdapat sekitar 150 kapal dan 200 nelayan yang saat ini menganggur karena cuaca buruk. Saat terjadi musim barat ini banyak nelayan yang beralih profesi, dan bagi nelayan yang tidak memiliki keahlian lain, mereka lebih memilih beristirahat dan menunggu cuaca tenang kembali.

 

Banyaknya nelayan yang tidak melaut, mengakibatkan harga ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) semakin mahal. Sebab, pasokan yang biasanya mencapai 5 ton per hari, kini hanya 1 ton per hari.

 

Beberapa tingkat dan perkembangan harga ikan kembung dari Rp.15 ribu per kilogram naik menjadi Rp.25 ribu per kilogram, ikan bawal dari Rp.25 ribu per kilogram menjadi Rp.45 ribu per kilogram, ikan kakap merah dari Rp.30 ribu menjadi Rp.50 ribu per kilogram, cumi dari Rp.25 ribu menjadi Rp 40 ribu per kilogram, dan udang dari Rp.40 ribu menjadi Rp.70 ribu per kilogram.

 

Di Dusun Penubu Desa Mata, Kec. Tarano, nelayan berutang kepada bank dan pemilik kapal untuk biaya hidup sehari-hari. Begitu juga, nelayan Labuhan Pidang andalkan utang dari pemilik kapal, pemerintah dan Bank.

 

Daerah-daerah pesisir Sumbawa ini mayoritas nelayan tradisional, mereka terjerat utang dengan beberapa pengusaha. Hal itu dipicu kegiatan melaut yang berhenti akibat pengaruh cuaca ombak dan keterbatasan alat tangkap serta kapal.

 

Sementara itu, keluarga dan anak-anak nelayan memerlukan biaya hidup sehingga mereka terpaksa meminjam uang. Para nelayan yang memperoleh pinjaman uang, tentu ada ketentuan dalam pengembalian uang dan bunga sekian persen, serta sesuai dengan perjanjian dengan nelayan. “Sampai kapankah beban penderitaan nelayan di Sunbawa ini akan berakhir?

 

Pemerintah dapat memikirkan solusi bagi kehidupan nelayan yang tidak bekerja dan dapat diberi bantuan modal untuk berusaha kecil-kecilan untuk dapat menyambung hidup mereka. “Pemerintah jangan hanya memberi bantuan kepada masyarakat. Tetapi perlu antisipasi segala kemungkinan yang perlu dipikirkan.”

 

Begitu juga. nelayan kepiting Desa Labuhan Bontong, pedagang dan pekerja resah. Mereka mengeluhkan kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan yang melarang penangkapan lobster, kepiting, dan rajungan bertelur. Akibatnya, nelayan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari karena perdagangan berhenti selama empat tahun ini

 

Arahman Kuling atau akrab disapa Paman Man, Labuhan Bontong menambahkan, “Saya mengeluh, kalau tidak ada harga kepiting, apa kami makan begini. Biasanya bisa bawa uang Rp 200-300 ribu, sekarang tidak ada sama sekali. ‘Kalau tidak ada uang, apa kita makan. Ini kosong.” Ungkapnya

 

“Pencari kepiting kasihan. Barangnya ada tapi karena dilarang menteri, pembeli jadi tidak ada. Kalau dia tidak bisa jual, kasihan tidak makan nelayan. Saya heran, yang bikin kebijakan begini siapa sih. Kok aneh. Coba pikirkan kalau kita nelayan, kalau tidak boleh nangkap kepiting, anak istri mau dikasih makan apa,” ujar Arahman Kuling saat diwawancarai.

 

Roger pun demikian. Pria yang tinggal di Labuhan Bontong Dusun Kampung Parang ini lebih banyak menghabiskan waktunya di gubuk tambak. Aktivitasnya sebagai pencari kepiting tak lagi dilakukan sejak keluarnya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 1 tahun 2015 melarang penangkapan kepiting, lobster, dan rajungan bertelur.

 

Praktis, pria yang sejak tiga tahun lalu menjadi pencari kepiting (perakang), itu menganggur. Dia pun kehilangan satu-satunya mata pencaharian yang selama ini dilakoninya. “Biasanya dapat 2-3 ekor kepiting telur atau super, biasanya dijual Rp 50-100 ribu. Tapi sekarang, tak ada lagi yang mau beli. Takut karena adanya aturan menteri,” ucap Roger.

 

Bagi nelayan, memenuhi kebutuhan hidupnya, tidak sedikit yang melakukan pinjaman. Selain itu sejumlah nelayan juga bekerja serabutan guna memperoleh pemasukan, misalnya untuk keseharian ke tetangga maupun ke koperasi secara perorangan.

 

Kaum perempuan atau istri para nelayan juga dapat membuat kelompok pengolahan ikan agar memiliki nilai tambah. “Kita optimis jika ikan hasil tangkapan dioleh menjadi abon, dendeng, kerupuk dan olahan lainnya maka di masa paceklik seperti ini para nelayan tidak akan kesulitan dalam hal pendapatan,” tuturnya.

 

Bersama para ibu nelayan kemaren di Labuhan Ala dan Labangka, tampak bersusah payah berjualan di pinggir jalan. Dagangannya sedari siang tak kunjung dijamah pembeli. Sekarang kondisinya sepi sekali, beda dengan dahulu harga-harga masih murah sehingga orang sering beli ikan. Ini saja pengusaha restoran enggak mau beli dari kita. Mereka sukanya memesan kepada para supplier.

 

Di tengah himpitan ekonomi, ditambah lagi perubahan cuaca yang tak menentu benar-benar membebani hidupnya. Jumlah pedagang ikan semakin berkurang yang telah berjualan ikan sejak usia 10 tahun mengaku tak bisa berbuat banyak dengan situasi saat ini.

 

(red)

 

By: Rusdianto Samawa, Ketua Umum Front Nelayan Indonesia (FNI).

 

, , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *