Rusdianto: Masani: Terima Kasih Anakku Telah Berikan Penerangan Diatas Rumah Panggung “Reot”

 

(Foto: dwnews)

DiamondNews Sumbawa – Alkisah, suatu hari. Pada kamis 27 Sept 2018, siang hari sekitar pukul 14.11. Saya datang kerumah keluarga dikarang Masjid Desa Empang Bawah bernama Syafriyanto, panggilan akrabnya, kalau orang panggil beliau: “Pak Yan”. Sudah jelas, saya panggil beliau: “Kak Yan.” Tepat rumahnya dibelakang rumah Kakak Ipar saya: M. Tahir Dilaga.

Secara umum keluarga besar, karena istri Kak Yan bernama: “Kak Mas” bersaudara kandung dengan M. Tahir Dilaga, suami dari Kakak Saya bernama Siti Rohani.

Tentu, niat saya kerumahnya “Kak Yan”: “Meminta doa restu untuk maju menjadi Caleg.” Waktu itu saya tidak minta mendukung dan coblos, hanya doa restu. Karena, keluarga kami di Plampang juga ada yang masuk menjadi Caleg. Namun, saya tidak merayu beliau untuk menjadi team pemenangan. Saya katakan waktu itu: “saya butuh nasehat, saran, kritik terbuka dan memberikan kontribusi ide apa yang bisa dilakukan, apabila ada ijin Allah untuk anggota DPRD Kab. Sumbawa.”

“Kak Yan” memulai cerita tentang pentingnya reformasi pola pikir para teknokrat dan birokrat yang selama ini berkolaborasi membangunan daerah dan desa, belum mampu menunjukkan karya terbaik dalam hal apapun. Teknokrat dan birokrat hanya mampu menghidupkan diri sendiri, mencari proyek sendiri, merancang, merencanakan dan melaksanakan pembangunan untuk kepentingannya sendiri.

Saya tau gaya dan karakter seorang Kak Yan dalam memberi nasehat dan diskusi. Gayanya selalu terbuka dan jujur mengatakan apapun yang beliau ketahui. Saya menyimak secara tenang dan membaca arah pikiran yang beliau maksud.

Saya bergumam dalam hati: “saya tidak salah memilih guru nasehat. Karena dari dulu beliau tak ada yang berubah.” Kak Yan seorang Guru Kelas yang baik dan senang diskusi. Dulu selama menjadi guru saya di MTsN Empang tahun – tahun 1997 – 1998 memegang Mata Pelajaran: “Sejarah Islam.” Asyik dan enak mengajarnya.

Dari cerita dan diskusi panjang berlangsung selama 2 jam lebih itu. Terselip kisah Bibi Masani yang hidup hanya suami istri tanpa anak. Rumah sederhana dan hidup berdua saling asih setiap hari.

Kak Yan, katakan saat itu: “To, sangaro pasang listrik Bibi Masani, keluarga kita yang tidak diperhatikan dan dianggap tak ada. Saya setiap hari disana, karena mobil saya disitu saya tempatkan dibawah mangga.” Begitu kata “Kak Yan.”

Saya cukup kaget mendengarnya karena sangat jarang diperhatikan oleh keluarga. Bibi Masani itu keluarga dekat. Keturunan baik-baik dan Bibi Masani saja yang masih hidup. Semua yang lain sudah meninggal.

Alur keluarga yakni: kami memiliki “Kakek,” akan saya sebut “Papen” Konde bersaudara kandung dengan Papen Gesing dan Papen Lida. Anak dari Papen Konde adalah: alm. Umar Bonto, alm. Tenri Karongkeng, Masani Sejari dan alm. Bahra Bonto.

Sementara, Anak papen Gesing terdiri dari: Syamsudin Dekorasi Empang, Sirojuddin Empang, Salimi Empang dan seterusnya.

Kemudian, anak dari Papen Lida bersuamikan Mustami, yakni: Ismail Tami Bonto, alm. Sapiola Tami, alm. Abdul Wahab Empang, alm. Sahra Bonto, alm. HM. Sidik Bonto dan seterusnya.

Lalu, Anak dari kakek itu sepupu satu semua. Kami generasi kedua (Sepupu dua) terdiri dari cucu semuanya. Kira-kira begitu alurnya, agak panjang kalau dijelaskan tulis semuanya.

Singkat cerita, Kak Yan mengamanahkan agar “Bibi Masani” dipasangkan listriknya. Akhirnya, hari itu juga, saya koordinasi bersama Bung “Rahman Saputra” team Rusdianto Center desa Sejari, untuk meminta KTP, foto rumah, foto pemiliknya, foto Kartu Keluarga dan kondisi lainnya.

Kemudian, Bung Rahman Saputra mendatangi rumahnya “Bibi Masani” dan meminta segala bentuk keperluannya. Namun, ada kendala yakni: Kartu Keluarga dan KTP suaminya tidak ada. Tetapi, KTP Bibi Masani masih ada, bentuknya lusuh.

Lalu, Bung Rahman Saputra memposting dan send message kepada saya melalui WhatsApp. Setelah saya menerimanya, koordinasikan dan di daftarkan untuk mendapatkan listrik gratis dari Rusdianto Center. Selang 3 hari listrik gratis itu dipasangkan oleh PLN sendiri. Saya posisi waktu itu masih di Jakarta.

Setelah dipasangkan KWH meteran listrik pada bulan september itu. Bibi Masani terus rembes airmatanya keluar setiap hari. Matanya memerah. Mengingat nama Rusdianto. Bibi Masani bertanya-tanya, siapa yang katanya keponakan saya memasang listrik rumah.

Dua bulan kemudian, tepat pada bulan Desember, saya pulang ke Sumbawa. Aktifitas ketemu rakyat dikampung-kampung (Desa-Desa). Saya tetap ingat Bibi Masani, cuma belum memiliki kesempatan yang banyak.

Akhirnya, kemaren saya luangkan waktu untuk mampir kerumahnya di Sejari. Saya dapati Bibi Masani lagi tidur. Sementara paman Ahmad, suaminya sendiri berdiri di depan pintu rumah melihat saya sedang parkir motor.

Saya ucapkan “Assalamualaikum”. Paman Ahmad segera menjawab “Waalaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh.” Kemudian, saya perkenalkan diri “Rusdianto”. Paman Ahmad pun segera mengingat kalau saya yang memasangkan listrik untuknya. Kemudian, mereka berdua memeluk saya dan berucap syukur, sambil menitihkan air matanya.

Kemudian, saya mencoba membaca kondisi rumah, apa makna dari reotnya dan sederhanya hidup mereka berdua. Saya sempat menitihkan air mata. Karena melihat Bibi Masani sendiri tanpa ada yang mengurusnya. Hanya hidup berdua.

Ternyata, Bibi Masani sedang sakit struk ringan, gula darah, kolesterol dan kecapean. Lalu, aku menenangkan hatinya. Mencoba memijat kakinya dan menghiburnya.

Bibi Masani, katakan kepada saya sendiri: “Anak, disini saja, tidur dirumah ini kalau sudah malam.” aku nganguk saja dan mengiyakan ajakannya.

Akhir dari cerita ini, biar kisah ini tidak panjang dalam penulisannya, yakni: Saya koordinasikan semua keluarga dan saya sendiri berjanji agar setiap saat dapat memperhatikan Bibi Masani dan Keluarga. Karena Bibi satu-satunya yang masih hidup. Mereka berdua (Masani dan Ahmad) membutuhkan langkah-langkah dan tahap untuk membahagiakan mereka. Semoga Bahagia Bibi Masani. Sabar

(red)

 

By: Rusdianto Samawa, Ketua Umum Front Nelayan Indonesia (FNI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *