Mantan suami bersama keluarganya gelapkan Rumah hasil keringat ketika gadis

Diamondworld.co.id. Batam –Susianty pemilik sertifikat rumah tipe 35/108, Perum, Permata Indah, Bogemvil, Blok J. No. 16. Kec. Sekupang, Kota Batam.

Susianty menjelaskan pada awak media, bahwa rumah yang di milikinya saat ini di peroleh pada Januari, 2010 saat dirinya belum menikah pada seorang pria yang bernama Suwarno.

Lebih lanjut lagi jelasnya bahwa dalam perjalanan waktu setelah menikah dengan pria yang bernama Suwarno, rumah tangga mereka sering cekcok, bahkan perlakuan kotor, kasar dan sering terlontar dari mulutya Suwarno, bahkan melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan di ponis oleh hakim jelas Susianty.

Dalam mengarungi bahtera rumah tangga Susianty dan Suwarno bergejolak
terjerat hutang piutang dengan saudara kandung Suwarno. Dalam hal tersebut di atas Suwarno jelas Susianty didesak oleh saudaranya untuk membayar hutang.

Suwarno merayu Susianty dengan harapan sertifikat rumah di anggunkan ke Bank BPR Dana Nagoya, dan berhasil dilakukan, tepatnya pada tahun 2016, dengan dalih guna membayar hutang Suwarno pada saudara kandungya Sutomo, Sumartini dan mertua Susianty imbuhnya.

Selanjutnya 5 bulan berjalan angsuran rumah macet, sehingga Suwarno minta tolong dengan keluargannya yaitu Sumartini yang sudah menjadi warga negara Singapura untuk melunasi rumah tersebut agar rumah yang di miliki tidak di sita oleh pihak Bank.

Kemudian Sumartini menulanasi ke BPR sebesar Rp. 187. 000.000.
Setelah diselesaikan ke Bank sertifikat di pegang sumartini dengan alasan supaya sertifikat tidak dijual oleh Suwarno ungkap Susianty.

Susianty di beri keyakinan oleh Suwarno bahwa rumah tersebut tidak akan diambil oleh Sumartini. Dengan kepercayaan penuh jelas Susianty pada nya, sertifikat rumah yang di pegang oleh Sumartini tidak ada membuat surat perjanjian tertulis. Sekitar tahun 2018 Sumartini mengajak ke notaris pada Susianty dengan dalih membuat perjanjian biasa.

Dengan alasan menyelamat sertifikat takut dijual oleh suami jelas Sumartini pada Susianty. Kemudian mereka datang ke notaris Heri Ridwanto, S.H, beralamat di Pelita. Namun Susianty tidak di bawa masuk untuk melakukan perjanjian, hanya di suruh duduk menunggu di tempat loby notaris jelas Susianty.

Suwarno dan Sumartini melakukan kesepakatan tampa melibatkan Susianty ke ruang notaris yang isinya Susianty tidak tahu sama sekali, selang satu hari Susianty di ajak ke notaris oleh Suwarno dan Sumartini guna Menandatangani surat perjanjian yang tidak diketahui apa isi yang terkandung didalamnya.

Ketika Susianty bertanya pada Sumartini tentang apa isi perjanjian yang di tanda tangani, jawab Sumartini,
tanda tangan saja jangan banyak tanya dengan nada tinggi pada saya jelas Susianty.
Ngak usah takut, itu hanya perjanjian biasa saja dengan nada marah.

Rumah tangga tidak dapat di pertahankan sehubungan dengan banyaknya masalah pribadi pada tanggal 21 Agustus, 2018 keluarlah surat cerai dengan sah.

Selang waktu 2 bulan setelah perceraian Susi dan anak-anak diminta keluar dari rumah oleh Sumartini karena beliau mengatakan rumah Suwarno telah dia beli dan telah ada AJB (Akat Jual Beli) yang sudah di tanda tangani di notaris.

Susianty menjelaskan bahwa rumah itu di beli sebelum berkeluarga, maka yang pantas keluar rumah adalah kamu (Suwarno) kata Susi.

Walaupun perceraian sudah sah dilakukan namun Suwarno tetap melakukan KDRT pada Susi, selanjutnya Susi melaporkan kepolisi Suwarno di tangkap dan di ponis hakim 7 bulan penjara.

Seminggu sebelum suwarno keluar penjara pihak keluarga Suwarno mengirim surat somasi pertama untuk mengosongkan rumah dalam waktu 1 bulan, Susi mengabaikan surat itu dan muncul surat somasi ke 2, dan dengan penekanan mengusir paksa dan akan mengembok rumah jelas Susi.

Dengan perbuatan dan sesuka hati mereka pada Susi, lantas Susi berkuasa hukum, dengan penjelasan bahwa ketika persoalan ini ditangani oleh Notaris Heri Ridwanto, S.H beliau tidak mau membuat BPJB yang diajukan oleh Sutomo dan Suhartini karenakan surat-surat belum memenuhi unsur, lantas Sutomo dan Sumartini beralih ke Notaris Wirlisman, S.H, tanpa kehadiran Susianty sebagai pemilik rumah sah, Notaris Wirlisman, S.H, telah mengeluarkan AJB (Akat Jual Beli) untuk mengurus balik nama di sertifikat.

Lebih lanjut lagi kuasa hukum Susianty mencoba menyurati BPN dan keluar surat jawaban bahwa rumah sudah beralih nama kepada Sutomo.

Karena proses jual beli di anggap tidak sesuai uu dimana Susi tidak pernah dihadirkan di hadapan Notaris Wirlisman, S.H, jadi jual beli tersebut dianggap tidak sah.

Dan sudah sepatutnya proses hukum di tegakkan terhadap Sutomo dan saudaranya. Dalam hal ini kuasa hukum Susi minta kepada Notaris Wirlisman, S.H, diharapkan untuk memberikan keterangan atas proses jual beli tersebut.

Melalui konfirmasi lewat handphone awak media menghubungi Notaris Wirlisman, S.H, beliau mengatakan, ” saya telah melakukan semua pekerjaan saya sesuai dengan surat yang diberikan Sutomo, jika mau dilaporkan silahkan, atau dimediakan juga silahkan katanya.

Permintaan Susi dan kuasa hukum untuk ditunjukan akta jual beli, jawab Wirlisman tidak mau karena ini rahasia negara tegasnya.

Atas kejadian ini melalui kuasa hukum Parti Siringo-ringo telah membuat pengaduan di polresta barelang Batam, agar Kuasa hukum Suwarno dapat mempertanggung jawabkan atas perbuatanya, dengan harapan pihak kepolisian segera mengungkap kasus penipuan ini. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *