Hery Marhat : Kelangkaan Gas 3 Kg di Batam Akibat Kurangnya Pengawasan Kadisperindag Kota Batam

Diamondworld.co.id, Batam – Kelangkaan Gas Elpiji 3 kg yang terjadi dikota Batam minggu – mingu ini cukup meresahkan masyarakat, hal ini menimbulkan tanggapan dan spikulasi dari pemerintah yang akhirnya saling tuding, Hery Marhat menerangkan (24/11) melalui whatsapp admin DNews.

Menuru Hery Marhat yang telah melakukan investigasi dilapangan mengatakan, “kelanggaan gas elpiji 3 Kg ini terjadi akibat system pengawasan dari Disperindag yang lemah. Dan patut diduga pihak Distributor sebagai supplier sudah tidak memberikan arahan kepada Keagenan atau pangkalan sebagai mana makanisme penjualan gas bersubsidi tersebut yang benar”.

Hery Marhat melanjutkan, hal ini bukan tanpa alasan, kerna dari hasil investigasi kami dilapangan, sebenarnya gas 3 kg tidak langka jika masyarakat mau membeli kepengencer yang ada dikios kios atau grosir dengan harga yang lebih mahal seperti disimpang DAM muka kuning dan tempat lainnya. Semua kios disana menjual Gas Elpiji 3 kg dengan harga yang lebih mahal dari harga pangkalan dimana sudah ditetapkan Rp. 18.000. Informasi yang kami dapatkan dilangan para pedagang mengambil gas tersebut kepangkalan – pangkalan terdekat yang ada disekitar muka kuning dengan harga Rp 20 000 sampai Rp. 22000. Bahkan ada juga ditemukan pangkalan yang menjual gas nya kerusun kampung salak yang bukan masyarakatnya dengan harga yang lebih mahal, ini kan sudah menyalahi ketentuan penyaluran.

Yang paling mengagetkan hasih investigasi kami, didaerah jodoh square, dipangkalan Gas tersebut sudah habis tapi disebelahnya ada kios yang menjual dengan harga Rp 30 000 per tabung. Kemudian penyaluran gas elpiji 3 kg ini menurut Hery Marhat tidak tepat sasaran. Kerna yang menggunakan gas tersebut bukan saja masyarakat yang kurang mampu, tapi dari berbagai kalangan. Jadi untuk mengatasi kelangkaan gas 3 kg dikota Batam, Pemerintah harus melakukan penertipan, sidak dan tutup para agen dan pangkalan serta pedagang yang tak mempunyai izin dimana telah menjamur diseluruh peloso kota Batam.

Ketika media ini mencoba menghubungi Disperindag melalui telpon seluler dan Whatshapp belum dapat dikomfermasi. Sementara salah satu pedagang yang tak mau disebutkan namanya memberikan penjelasan terkait hal ini, terkait isu tersebut bisa saja benar, tapi satu hal yang juga masyarakat tau bahwa dengan menjual Rp. 18.000 per tabung kami hanya dapat capeknya saja. kami mengencer dari pagi sampai malam dan kuota yang diberikan dibatasi, contoh hanya 50 tabung, mas dapat bayangi berapa yang kita dapat dari agen, dari pada kita repot – repot lebih baik kita jual tolak aja dengan harga segitu. Kalaupun pengencer yang ambil dengan kita naikan harga lagi, tentunya dia mau cari untung juga, terang Mr. D yang namanya tak mau disebutkan (Tim-DNews)

Tinggalkan Balasan