Bangunan Pujasera Diapit Antara Beberapa Tempat Ibadah di Kota Batam

DNews, Batam – Jumat, 17/1/2020 awak media DNews mendengarkan pembicaraan beberapa jemaah yang telah selesai melakukan sholat Juma’at di mesjid Jabal Arafah Nagoya. Dengan sengaja ikut mendengarkan curhat jemah tersebut, “sepertinya bangunan Pujasera di bawah sana sudah hampir selesai, tentunya akan beroperasi. Kalaulah nanti sudah dibuka, bagaimana lah jadinya? dibawah orang beryanyi – yanyi sambil meneguk minuman keras dan memakan makanan yang bagi kita orang muslim tidak halal, sementara kita sedang melakukan ibadah”, kata Neldi sambil menunjuk lokasi pembangunan Pujasera yang diprediksi terbesar di kota Batam.

Peraturan Daerah (Perda) kota Batam no 2 tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah pada tahun 2014 sudah tidak berlaku lagi karena sudah harus diperbarui sesuai perkembangan kota Batam, hal ini tentunya membuat rancu pembangunan di kota Batam, karena hingga saat ini pemerintah belum mengeluarkan Perda terbaru tentang RTRW tersebut. seperti contoh membangun sebuah Pujasera yang bersebelahan atau diapit oleh Mesjid Jabal Arafah dimana pas pintu masuk mesjid, Mesjid Al Falah pas bersebelahan dan Gereja yang juga tak jauh lokasi termasuk Gedung Pendidikan Ibnu Sina yang bersebelahan.

Salah seorang jemaah yang namanya tak mau dituliskan mengatakan, “Pujasera itu tempat maksiat, saya katakan begitu karena disana dijual Minuman Keras dan pelayan menggunakan pakaian sexy. lihatlah seperti yang mereka bangun di pujasera A2, dan banyak contoh pujasera lainnya. bahkan sering terjadi keributan jika sudah mabuk – mabukan”.

Ketika awak media mengatakan bahwa keberadaan pujasera tentunya akan menunjang perekonomian kota Batam, namun jemaah tersebut menjawab bahwa sangat mendukung jika pemerintah berfikir keara sana, mungkin itu salah satu program untuk meningkatkan pendapatan daerah tentang Pariwisata, tapi pemerintah juga harus memikirkan tentang hidup kerukunan umat beragama. Agar masyarakat Batam menjadi masyarakat Madani maka tempat beribadah bagi umat juga harus jauh dari tempat maksiat. Ditambahkannya, “saya lebih setuju jika lahan tersebut di bangun Vihara, Klenteng atau rumah ibadah lainnya. Kita bisa lihat di daerah lain Mesjid, Gereja dan Vihara dibangun berdampingan, sehingga terjalin kerukunan antar umat beragama”, tuturnya.

Ketika media ini mencoba komfirmasi dengan pihak Pujasera melalui whatsapp beberapa kali, beliau hanya membaca dan terkesan enggan menjawab pertanyaan media hingga berita ini diterbitkan.

Menurut Santoso Sekretaris MUI Batam ketika dikomfirmasi, “Yang mana mas?” , awak media menjelaskan lokasi, “Saya belum mengetahui pasti mas, karena belum juga ada laporan ke kami, kalau persis disamping mesjid ya sangat tak elok lah mas” jelas Santoso melalui Whatsappnya. (Tim-DNews).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *