Diterjang Banjir Bandang Awal Januari 2020, Murid Madrasah di Lebak Hingga Sekarang Belajar di Penampungan Tenda Peleton

DNews, Lebak – Puluhan anak kampung Seupang kini bertahan belajar dibawah tenda peleton yang merupakan tempat belajar mengajar sementara mereka sekarang. Dengan duduk bersila tanpa meja dan kursi tampak anak murid tersebut semangat menyambut masa depannya. Tenda peleton berdiri di tengah kebun Kampung Seupang, Desa Pajagan, Sajira, Lebak. Posisinya persis di bawah pohon yang memiliki daun yang rindang, didalam tenda terdapat level kayu sebagai alas. dua buah papan tulis juga tersedia, saling berhadapan, tempat ini merupakan sekolah darurat untuk anak-anak korban banjir bandang di Kampung Seupang awal Januari 2020.

Pada Senin (17/2) lalu, riuh anak-anak terdengar dan seorang guru hadir di tengah mereka dengan wajah yang masih tegar mengatakan pada awak media, “Sekolah begini adanya untuk sementara, ditenda ini ada kelas 1, 2, dan 3, murid lainnya ada disekolah sementara yang baru dibangun”, ungkap Nisa guru tersebut sambil menunjuk ke arah bangunan sekolah darurat untuk kelas 4, 5, dan 6 yang posisinya persis di sebelah tenda.

“Anak-anak ini merupakan murid Madrasah Ibtidaiyah Mathla’ul Anwar, Seupang, dimana bangunan sekolah mereka telah hancur dan belum terbangun hingga sekarang, sebagian bangunan sekolah temboknya jebol, tak kuat menahan air bercampur lumpur yang tingginya mencapai lima meter, bangku serta berkas-berkas sekolah juga tak dapat diselamatkan”, tutur Nisa.

Lanjut Nisa, “Saat ini kegiatan belajar dalam kondisi darurat, lokasinya di kompleks pengungsian warga Kampung Seupang. Tenda ini dibuat sejak hari pertama masuk sekolah, Senin (6/1), usai libur akhir tahun dengan pengajar 5 orang guru dan 49 murid”.

Wahibudin atau akrab disapa Bubud, yang juga salah satu guru di MI Mathla’ul Anwar, mengatakan, sejak hari pertama masuk sekolah itu, anak-anak diberikan dukungan psikososial dari relawan yang bertugas di sana. Cara ini dilakukan agar anak-anak dapat cepat melupakan bencana banjir bandang itu. Di hari itu juga mereka bersekolah tanpa seragam maupun sepatu dan buku. Semua perlengkapan sekolah hanyut terbawa derasnya banjir bandang. Bantuan yang diberikan relawan dengan tanggap mendirikan tenda sekolah sementara, dan peralatan untuk belajar telah kami terima, namun kami tetap menunggu uluran tangan terutama mempercepat terbangunnya kembali gedung sekolah agar anak murid bisa belajar dengan layak, bubud menjelaskan (20/2/2020).

Bubud menambahkan, “sampai saat ini belum tahu akan dipindahkan kemana lokasi sekolah permanen nantinya. Kemungkinan sekolah akan pindah lokasi mengikuti pindahnya Kampung Seupang”. Budud menceritakan bahwa Sekolah ini awalnya didirikan warga Kampung Seupang dan sekitarnya pada tahun 1970-an karena sekolah yang ada saat itu sangat jauh dari kampung mereka. Harapan Bubud sebelum terbangun sekolah yang baru, anak – anak membutuhkan buku,alat tulis dan lainnya dan sangat membutuhkan bantuan para donatur agar anak muris masih bersemangat belajar. (Agung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *