Ismeth Abdulah – Irwan Nasir Semakin Menguat Menjelang Pendaftaran di KPU Prov. Kepri

DNews, Batam – Ismeth Abdullah – Irwan Nasir terus berkibar di Provinsi Kepri menjelang pendaftaran calon ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Kepri pada Juni 2020 mendatang. Salah seorang simpatisan Adrian mengatakan, “popularitas Istmeth-Nasir cenderung meningkat ditengah-tengah masyarakat Kepri. Meskipun belum mendapatkan kenderaan politik yang cukup untuk mendaftar sebagai pasangan calon ke KPU Kepri tapi antusias masyarakat cukup bagus, “ujar Adrian(5/3/2020) di Komplek Ruko Business Centre.

Lanjut Adrian bahwa kepercayaan masyarakat masih tinggi kepada mantan Gubernur tersebut, hal ini dapat dlihat dari hasil survey UMRAH yang menyatakan Ismeth Abdulah berada di urutan atas. Jika dilihat dari antusias masyarakat, pasangan calon pilgub 2020 ini bisa menjadi tiga pasang diantaranya Ismeth – Irwan, Isdianto – Merlina, dan Suryo – Sahrul, terang Adrian.

Beberapa isu berkembang bahwa pasangan Ismeth-Irwan akan diusung oleh koalisi Partai Golkar dan Hanura. Secara perolehan kursi, kedua partai ini sudah cukup untuk mengusung pasangan calon dengan jumlah 11 kursi. “Mengapa  cenderung Golkar akan mengusung Ismeth-Irwan, pertimbangannya tentu sangat politis. Yakni, karena Golkar Kepri sedang membangun kekuatan ditingkat nasional”, Tuturnya.

Peluang besar bagi Ismeth bahwa Mantan Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Kepri, Ansar Ahmad mengaku belum bisa membuat keputusan politik, dan sepertinya akan bertahan di Senayan ketimbang maju di Pilgub. Seperti yang pernah dikatakannya kepada salah satu media bahwa capeknya belum hilang bertarung di Pileg 2019 yang lalu.

Adrian mengatakan saat mendaftarkan diri ke Golkar Kepri, Ismeth Abdullah mengungkapkan alasannya, “mengapa saya tertarik untuk turun gunung, saya tertantang untuk membangkitkan kembali kejayaan Provinsi Kepri. Karena dengan kekuatan APBD Kepri Rp1,8 triliun ketika saya menjabat Gubernur, bisa membangun sejumlah proyek strategis dan peningkatan ekonomi. Sekarang APBD Kepri sudah pada angka Rp3,8 triliun. Namun ironis pertumbuhan ekonomi lemah dan Jembatan Batam Bintan (Babin) tak kunjung terwujud”, jelas Adrian menirukan bahasa Ismeth Abdulah. (HR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *