Mulkhansyah, “Pembagian BST Tidak Tepat Sasaran dan Cara Membagikan Terkesan Menimbulkan Kloster Baru Untuk Penularan Covid-19”

DNews, Batam – Program pemerintah membagikan Bantuan Sosial Tunai (BST) atau dulunya dikenal dengan BLT mendapat sorotan masyarakat diantaranya pengambilan dengan cara berkurumun sehingga bukan memutus mata rantai Covid-19 tapi malah menimbulkan kloster penularan baru. Kemudia penerima yang tidak tepat sasaran, dari pantauan kamera DNews di Kantor Pos Batam Centre penerima rata – rata memakai motor atau tergolong hidup mapan (15/5/2020).

Menurut keterangan Masni G Augusta pegawai kantor Pos mengatakan, ” Bantuan Sosial Tunai (BST) diberikan kepada warga yang terdampak Pandemi Covid-19. Bantuan ini berjumlah Rp. 600.000,- / bulan dan rencananya akan dibagikan selama 3 bulan, mulai bulan Mai , Juni dan Juli ditahun 2020″ ujarnya.

Ketika awak media menanyakan tentang pengambilan yang berkumpul, Masni menjawab bahwa pihaknya telah berupaya membagi jadwal bahkan jadwal tersebut diambil per RW disetiap kelurahan. Untuk maksimal pengambilan per hari hanya 500 orang. Masni mencontohkan, ” seperti hari ini yang mengambil dari Baloi dan Belian dan nama penerima juga sudah kita pajang di depan” tuturnya.

Terkait penerima beberapa RT mengatakan bahwa mereka tidak pernah dilibatkan siapa yang berhak menerima. M Lis Azrusman mengatakan, ” Rt tak pernah dilibatkan pak, terkait data ada yang bukan tinggal di Rt kami lagi atau bahkan orangnya sudah tak ada, itu diluar sepengetahuan kami” ujar Lis. Hal yang sama juga diungkapkan Ibu Yeyen, ” Rt tak dilibatkan atas data penerima BST tersebut, bisa jadi itu data lama” Ucapnya.

Mulkhansyah salah seorang pemerhati di kota Batam mengatakan, ” Pemerintah seharusnya bekerja dengan sungguh – sungguh atas Bantuan Sosial Tunai ini, uang itu berasal dari masyarakat maka masyarakat juga berhak mengawasinya. Berdasarkan laporan masyarakat, banyak yang susah tidak terdata sebagai penerima, sedangkan kita tinjau di kantor Pos malah yang mengambil rata – rata hidupnya sudah berkecukupan. Kami minta aparat cuba mengusut hal ini, jika terjadi penyimpangan segera penjarakan”.

Ditambahkan Mulkhan “bahwa cara pembagian BST ini terkesan menimbulkan klaster baru penularan Covid-19. Sudah 2 bulan pemerintah menekan masyarakat agar dirumah saja “Stay at Home”, tapi hari ini saya lihat kok malah bergerumun dan berdesak – desakan mengambilnya. Disini kita melihat keterledoran pemerintah, jika mereka sudah lama terdata sebagai penerima pasti datanya lengkap termasuk nomor rekening, sehingga mereka tinggal mengambil di rekening masing – masing. Pemerintah menghimbau agar melawan dan melakukan pencegahan penularan Covid-19, tapi pemerintah sendiri sering melanggar ketentuan itu dan seolah mengundang masyarakat untuk membolehkan berkumpul – kumpul” jelas Mulkhansyah. (HR/Red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *