Inilah Penjelasan BP Batam Terkait Banjir Disejumlah Tempat Kota Batam

DNews, Batam – Banjir yang terjadi di sejumlah lokasi dan jalan sejak hujan mengguyur kota Batam, Sabtu (20/6/2020) serta adanya dugaan dari masyarakat bahwa kegiatan Teknologi Modifikasi Cuaca (hujan buatan) yang sedang dilakukan oleh Badan Pengusahaan (BP) Batam bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerepan Teknologi (BPPT) adalah penyebab terjadinya banjir tersebut. BP Batam melalui Kepala Biro Humas Promosi dan Protokol BP Batam, Dendi Gustinandar, dalam keterangan persnya, Rabu (24/6/2020) menjelaskan, TMC atau hujan buatan tidak menyebabkan banjir di Nagoya, Baloi, dan Batuaji.

“TMC itu mengunci awan yang akan mengarah ke Daerah Tangkapan Air (DTA) waduk dan disemai, sehingga makin deras dan hanya fokus ke DTA waduk,” ucap Dendi. Dijelaskannya, berdasarkan prakiraan dari BMKG, yaitu bahwa dalam minggu-minggu terakhir Juni ini di wilayah Kepri, diprediksi akan terjadi peningkatan hujan, dan sejak Jum’at (19/6/2020) dini hari memang terjadi hujan secara alami di Kota Batam begitu juga di beberapa wilayah di Kepri termasuk di Tanjung Pinang dan Rempang. “Penerapan TMC untuk mempercepat hujan dilakukan dengan mengunci koordinat di sekitar area Waduk Duriangkang dan Waduk Muka Kuning. Setelah awan yang berada di sekitar koordinat DTA waduk tersebut masuk, lalu dilakukan inisiasi di awan untuk menurunkan hujan di lokasi yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan volume hujan didalam waduk yang saat ini masih perlu ditambah akibat kemarau berkepanjangan,” paparnya. Selain pengaruh angin, lanjut beliau, “terjadinya hujan di sekitar daerah tangkapan air Waduk Duriangkang dan Waduk Muka Kuning mengakibatkan terbentuknya iklim mikro yang dapat menyebabkan terjadinya hujan dan adanya pengaruh angin yang membawanya ke beberapa lokasi yang tidak disasar oleh Tim TMC BPPT”.

“Dengan mengunci koordinat untuk penerapan TMC diharapkan sasaran jatuhnya hujan sesuai dengan posisi yang diinginkan untuk menambah tinggi muka air waduk untuk kepentingan ketersediaan air seluruh masyarakat Batam dan Kawasan industri,” pungkasnya.

Sementara itu, Budi Harsoyo, Koordinator Lapangan TMC BPPT, menyampaikan, hujan yang terjadi dimalam hingga dinihari bukan merupakan efek modifikasi cuaca, karena efek penyemaian awan hanya dapat berpengaruh dalam waktu singkat, maksimal sekitar 30 menit hingga 1 jam setelah aktivitas penyemaian. Dan BPPT melakukan penyemaian hanya di saat siang hingga batas sunset di sore hari. Tidak ada penerbangan malam hari. Dia menjelaskan, curah hujan tinggi pada hari sebelumnya yang terjadi di malam hari inilah yang menyebabkan sejumlah wilayah sudah mulai tergenang karena kondisi tanah yang sudah jenuh air, sehingga saat terjadi hujan di sore hari kemarin, volume genangan bertambah dan terjadilah banjir.

“Hari ini, BPPT melakukan 2 sorti penerbangan penyemaian awan. Sorti pertama pukul 09.25 – 10.15 WIB dengan lokasi penyemaian di overhead Waduk Muka Kuning dan Waduk Duriangkang. Sorti kedua pukul 14.45 – 15.30 WIB dengan lokasi penyemaian di Tenggara Pulau Batam. (Peta jalur penyemaian terlampir). Keduanya tidak ada yang dilakukan di wilayah utara Batam yang menjadi area banjir,” terangnya lagi.

Berdasarkan analisa parameter cuaca untuk wilayah Batam dan sekitarnya, lanjutnya, selama dua hari terakhir memang terjadi peningkatan potensi peluang kejadian hujan. Kelembabaan udara disetiap lapisannya sangat basah (berkisar antara 70-100%), kecepatan angin relatif calm, dan dari pola angin terlihat bahwa wilayah Kepulauan Riau menjadi daerah konvergensi (belokan angin), sehingga berpotensi untuk terjadinya penumpukan awan. Kondisi inilah yang menyebabkan curah hujan alami juga cukup tinggi intensitasnya,” pungkasnya. (Hms/ Agung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *